December 9, 2018

Sign in

Sign up

Revitalisasi Ilmu Pengetahuan

By on October 2, 2018 0 105 Views

Oleh : Ust. Yusuf Utsman Baisa, Lc (Anggota Dewan Pembina Pesantren Al-Andalus)

Pada saat ini kita rasakan adanya dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum, terutama sekali di dunia pendidikan formal. Akibatnya di sekolah-sekolah umum terbentuk perhatian yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan umum akan tetapi mereka mendeskriditkan ilmu agama, hal sebaliknya juga terjadi di sekolah agama atau pondok pesantren.

Akar permasalahannya dimulai dari sejarah pertentangan antara kalangan intelek dengan kalangan gereja, dimana kalangan intelek mendapati kesalahan ilmiah pada pendapat-pendapat kalangan gereja, sehingga komunitas mereka retak menjadi dua komunitas yang berbeda dan semakin berjauhan, bahkan perseteruan ini semakin memburuk dengan berkembangnya sekulerisme yang terus menguat dan pada akhirnya saat ini telah mengkristal menjadi liberalisme.

Perseteruan ini masuk ketengah komunitas muslimin bersama masuknya para penjajah barat ke negara-negara Islam, akibatnya ilmu pengetahuan agama Islampun ikut terseret kedalam dikotomi tersebut, karena perlakuan dan anggapan yang menyamakan antara ulama Islam dengan kalangan gereja dan agama Islam dengan agama kristen.

Hal ini berawal dari kesalahan prinsip berupa kuatnya anggapan mereka bahwa “agama” adalah budaya manusia, yang konotasi maknanya adalah karangan manusia. Pada giliran berikutnya merekapun menganggap “agama Islam” adalah karangan manusia, yang dalam hal ini maksudnya karangan Muhammad dan para ulama Islam.

Padahal dalam ajaran agama Islam dibedakan antara Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shohih sebagai wahyu di satu sisi dengan pendapat ulama di sisi yang lainnya. Dimana Al-Qur’an adalah adalah wahyu secara lafazh dan makna, juga Al-Hadits adalah wahyu secara makna, karena keduanya datang dari Alloh dengan membawa kebenaran mutlak, sementera “pendapat ulama” bisa benar dan bisa salah.

Sehingga dipandang dari “ajaran Islam” posisi wahyu adalah sebagai poros dari ajaran Islam, sedangkan pendapat para ulama adalah penjelas dan pemerinci dari ajaran Islam dan berikutnya ilmu pengetahuan umum adalah sebagai pendukung dalam mengarahkan umat manusia kepada kaselarasan dalam menjalani kehidupan ini.

Dalam ajaran Islam ilmu itu sama pentingnya, tidak ada yang perlu dideskriditkan, karena kesemuanya jika diaplikasikan dengan tepat akan memberi manfaat besar dalam memakmurkan bumi ini dengan cara yang positif dan beradab, ketiga macam ilmu tersebut juga memberi petunjuk kearah kebaikan, kebenaran dan manfaat serta ketiganya juga membawa umat manusia untuk bisa bergaul dengan cara yang adil, seimbang dan selaras.

Ilmu secara umum harus disinergikan dalam membantu umat manusia menuju puncak peradaban manusia modern, yang penuh dengan pencapaian dan temuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia modern haruslah memiliki akhlaq yang mulia, aqidah yang benar, ibadah yang lurus dan pola interaksi antar manusia yang adil, seimbang dan selaras.

Program “Revitalisasi Ilmu Pengetahuan” haruslah melibatkan Muslimin secara penuh, mengingat jumlah mereka yang telah melebihi seperempat penduduk dunia pada saat ini. Apalagi para ulama dan ilmuwan muslimin di zaman ini keberadaan mereka tidak bisa dianggap remeh. Lebih dari itu eksistensi OKI (organisasi negara negara Islam dunia) cukup dihargai di mata dunia karena keputusan mereka sangat diperhitungkan.

Untuk itu semua praktisi pendidikan pada saat ini harus bangkit melaksanakan program “Revitalisasi Ilmu Pengetahuan” dengan penuh kesiapan dan perencanaan yang matang. Kerjasama yang rapih dan menyeluruh adalah tuntutan yang harus dipenuhi, jika muslimin ingin tampil berwibawa dan lagkah mereka bisa diperhitungkan oleh kawan dan lawan.*

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *