Oleh : Nurdin Apud Sarbini, Lc., M.Pd. (Mudir ‘Am Pesantren Islam Internasional Al-Andalus)
Manusia hari ini hidup dalam kecepatan yang melelahkan. Saat hari masih pagi, ia sudah dikejar target. Siang datang ia diburu ambisi. Sore memasuki malam habis untuk menutup kekurangan. Bahkan dalam ibadah pun, sebagian orang ingin semuanya sekaligus : cepat, padat, selesai. Seolah-olah nilai seorang hamba diukur dari seberapa banyak yang ia lakukan, bukan seberapa benar ia berjalan.
Di tengah arus hidup yang tergesa itu, syariat menghadirkan satu pelajaran yang halus namun dalam maknanya, yaitu Haji Tamattu’. Sebuah ibadah yang bukan sekadar jenis manasik. Melainkan adalah cara Allah Ta’ala mendidik jiwa kita agar tahu kapan harus berlari, dan kapan harus berhenti.
Berhenti Itu Bagian dari Ketaatan
Dalam Haji Tamattu’, seorang muslim memulai dengan umrah. Ia thawaf, sa’i, lalu bertahallul. Selesai. Ia keluar dari ihram. Ia kembali menjadi manusia biasa. Padahal ia sedang berada di tanah suci. Padahal suasana ibadah begitu kuat. Namun ia tetap diperintahkan untuk berhenti.
Di sinilah letak pelajaran yang sering tidak kita sadari, bahwa berhenti, jika sesuai sunnah, adalah sebentuk ibadah. Allah Ta’ala berfirman,
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Betapa banyak manusia hari ini yang tidak tahu cara berhenti. Ia memaksa dirinya untuk terus berjalan, hingga akhirnya bukan pahala yang didapat, tetapi kelelahan yang menggerus keikhlasan. Maka Haji Tamattu’ mengajarkan, bahwa tidak semua kebaikan harus ditunaikan dalam satu tarikan napas, tidak semua kebaikan harus tuntas sekali jalan.
Ketika Ibadah Tidak Lagi Mengikuti Perasaan
Mungkin ada orang yang berkata, “Kalau sudah di Makkah, mengapa tidak terus dalam ihram? Mengapa harus bertahallul?”
Di sinilah ujian itu. Seorang muslim dalam Haji Tamattu’ justru diperintahkan untuk keluar dari kondisi ibadah yang “terasa tinggi”, lalu kembali masuk nanti pada waktunya.
Ini bukan soal logika. Ini adalah soal ittiba’.
Soal mengikuti Rasulullah SAW. Karena Rasulullah SAW bersabda,
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
“Ambillah dariku manasik kalian.” (HR. Muslim no. 1297).
Agama ini tidaklah dibangun di atas perasaan. Bukan pula di atas semangat yang tidak terarah. Tetapi di atas tuntunan. Kita beramal bukan berdasar selera, tapi berdasar petunjuk dan keteladanan dari Rasulullah SAW.
Betapa banyak manusia hari ini yang ingin beribadah sesuai apa yang ia rasakan baik. Padahal kebaikan itu bukan pada apa yang kita sukai, tetapi pada apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Haji Tamattu’ mendidik kita untuk tunduk pada syariat—bahkan ketika hati merasa sedang semangat-semangatnya taat.
Menunggu: Ibadah yang Paling Tidak Disukai Zaman Ini
Setelah umrah selesai, jamaah menunggu. Hari demi hari berlalu hingga datang tanggal 8 Dzulhijjah. Tidak ada wukuf. Tidak ada lempar jumrah. Tidak ada puncak ibadah.
Hanya menunggu. Dan di sinilah banyak jiwa diuji. Karena manusia modern tidak suka menunggu. Semua ingin instan. Semua ingin cepat. Padahal Allah Ta’ala berfirman,
وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46).
Menunggu dalam ketaatan adalah bagian dari ibadah. Menahan diri dari tergesa adalah bentuk kesabaran. Haji Tamattu’ seakan berkata kepada kita, bahwa puncak itu ada waktunya. Tidak bisa dipercepat.
Keseimbangan yang Hilang dari Kehidupan Kita
Saat bertahallul, semua yang tadinya terlarang dalam ihram menjadi halal kembali. Pakaian biasa, wewangian, interaksi, bahkan kehidupan normal kembali berjalan. Ini bukan sekadar keringanan. Ini adalah pendidikan. Bahwa Islam tidak menginginkan seorang hamba hidup dalam satu ekstrem.
Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, dan istrimu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari no. 5199).
Hari ini, ada yang tenggelam dalam dunia hingga lupa akhirat. Ada pula yang bersemangat dalam ibadah, tetapi melalaikan hak-hak lain. Haji Tamattu’ datang sebagai penyeimbang, bahwa ada waktu untuk fokus total kepada Allah, dan ada waktu untuk menjalani dunia dengan benar. Terlebih, menjalani kehidupan dunia dengan benarpun merupakan bentuk ibadah kita kepada Allah Ta’ala.
Tidak Ada Kenikmatan Tanpa Pengorbanan
Haji Tamattu’ mewajibkan dam. Seekor kambing disembelih. Ini bukan sekadar ritual, tetapi pesan, bahwa setiap kemudahan dalam ibadah tetap menuntut pengorbanan. Allah Ta’ala berfirman,
فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ
“Maka bagi siapa yang ber-tamattu’ dengan umrah menuju haji, maka wajiblah ia menyembelih hadyu yang mudah didapat.” (QS. Al-Baqarah: 196).
Di zaman ini, banyak orang ingin hasil besar tanpa harga. Ingin pahala tanpa lelah. Ingin surga tanpa pengorbanan. Padahal jalan menuju Allah selalu diiringi dengan sesuatu yang harus kita lepaskan, harus kita korbankan.
Hidup yang Teratur, Bukan Tergesa
Haji Tamattu’ mengajarkan kita cara menjalani kehidupan. Bukan dengan tergesa-gesa. Bukan dengan memaksa. Bukan pula dengan mengikuti perasaan semata. Tetapi dengan mengikuti tuntunan, memahami ritme, dengan bersabar, dan dengan berkorban.
Karena, nampaknya masalah terbesar manusia hari ini bukan kurangnya amal, tetapi hilangnya ketertiban dalam beramal. Manusia ingin semuanya diraih sekaligus, hingga akhirnya tidak ada yang benar-benar ia raih.
Maka, belajarlah dari Haji Tamattu’. Ibadah yang mengajarkan tentang kapan harus berjalan dan kapan harus berhenti. Kapan harus berlari menjemput, dan kapan harus menunggu. Karena dalam kehidupan ini, bukan yang paling cepat yang sampai, tetapi yang paling tepat dalam mengikuti petunjuk. (*)





































