Oleh: Nurdin Apud Sarbini (Mudir ‘Am Pesantren Islam Internasional Al-Andalus)
Di sebuah sudut negeri, ada seorang bapak yang telah menabung belasan tahun. Setiap rupiah yang ia sisihkan adalah potongan dari keinginannya sendiri. Ia menahan banyak hal, demi satu cita-cita: menjadi tamu Allah di Baitullah.
Tahun ini, namanya sempat tercantum dalam daftar keberangkatan. Ia membeli kain ihram, menyiapkan koper, mengikuti manasik, bahkan telah berpamitan kepada keluarga dan tetangga.
Namun, takdir berkata lain. Kebijakan baru terkait penyesuaian kuota haji daerah membuat sebagian nama yang semula dijadwalkan berangkat harus ditunda. Termasuk dirinya.
Apa yang tersisa? Bukan hanya kekecewaan, tetapi juga kehampaan yang sulit dijelaskan. Harapan yang sudah terasa nyata, tiba-tiba menjauh kembali.
Di titik ini, iman tidak lagi diuji pada ucapan, tetapi pada kejujuran hati dalam menerima ketetapan Allah.
Haji: Panggilan Allah, Bukan Sekadar Sistem Manusia
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)
Ayat ini menegaskan bahwa haji bukan sekadar urusan administrasi, bukan semata sistem kuota, bukan pula sekadar soal giliran. Ia adalah panggilan. Ada dimensi ilahiah yang tidak bisa dijangkau oleh logika manusia.
Kebijakan bisa berubah. Kuota bisa disesuaikan. Jadwal bisa ditunda. Namun satu hal yang tidak berubah: siapa yang benar-benar dipanggil oleh Allah, maka ia akan sampai, dengan cara yang Allah kehendaki.
Para ulama menjelaskan bahwa taufik adalah ketika Allah membimbing seorang hamba kepada kebaikan, memudahkan jalannya, dan menjadikan hatinya condong kepadanya. Taufik bukan sekadar keinginan, tetapi persetujuan dari langit atas langkah seorang hamba di bumi.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menggunakannya.” Para sahabat bertanya: “Bagaimana Allah menggunakannya?” Beliau menjawab: “Allah memberi taufik kepadanya untuk melakukan amal shalih sebelum ia meninggal.” (HR. Ahmad)
Maka ketika seseorang telah merasa siap, tetapi jalan itu belum dibukakan, hendaknya ia memahami bahwa yang sedang berbicara bukan sekadar keadaan, tetapi kehendak Allah yang Maha Mengetahui.
Tertunda, Bukan Tertolak
Di sinilah ujian yang sesungguhnya. Bukan pada gagal berangkat, tetapi pada bagaimana hati menyikapinya. Banyak orang mampu bersabar ketika belum memiliki apa-apa. Tetapi ketika sudah hampir sampai, lalu ditarik kembali, di situlah kesabaran mencapai puncaknya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Bisa jadi penundaan ini adalah penjagaan. Bisa jadi jika ia berangkat tahun ini, ada sesuatu yang tidak baik baginya. Atau bisa jadi Allah ingin meluruskan sesuatu dalam hatinya sebelum ia benar-benar berdiri di hadapan Ka’bah.
Namun di titik ini, ada pertanyaan yang lebih dalam dan lebih jujur: jangan-jangan selama ini kita tidak benar-benar menginginkan Allah, tetapi hanya menginginkan perasaan menjadi tamu-Nya. Kalimat ini pahit, tetapi perlu.
Karena tidak semua kerinduan adalah tanda keikhlasan. Bisa jadi ia hanya dorongan emosi yang belum diuji. Apakah hati tetap ridha, atau mulai menggugat takdir? Apakah lisan masih memuji Allah, atau diam-diam menyimpan kekecewaan kepada ketetapan-Nya? Di situlah hakikat iman tersingkap.
Menuju Allah Tidak Pernah Tertunda
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْآخِرَةَ وَيَسْعَ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia beriman, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)
Perjalanan menuju Allah tidak pernah tertunda. Yang tertunda hanyalah sebagian jalan yang kita inginkan, bukan jalan yang Allah tetapkan. Maka, siapa yang tetap menjaga shalatnya, memperbaiki taubatnya, dan meluruskan niatnya, sejatinya ia sedang melangkah menuju Allah, meskipun kakinya belum menginjak tanah haram.
Bagi siapa saja di antara kita yang tertunda langkahnya, janganlah mengira diri kita ditolak. Bisa jadi kita sedang dipersiapkan. Bisa jadi Allah ingin kita datang dalam keadaan yang lebih bersih, lebih tunduk, dan lebih jujur.
Dan ingatlah, yang paling penting bukanlah sampai ke Ka’bah, tetapi sampai kepada Allah. Bisa jadi yang tertunda hari ini bukan perjalanan kita ke Makkah, tetapi kesempurnaan hati kita untuk benar-benar layak berdiri sebagai tamu-Nya. (*)







































